Wednesday, September 25, 2013

Posted by jinson on 5:17 AM No comments
kista ovarium

Berikut adalah jenis-jenis kista ovarium yang sering dialami oleh perempuan yang masih aktif secara reproduksi, yaitu:

1. Kista Folikuler

Kista folikuler merupakan jenis kista sederhana yang terbentuk jika proses ovulasi tidak terjadi atau ketika folikel matang pecah dengan sendirinya.

Kista folikuler biasanya terbentuk pada masa ovulasi dan bisa tumbuh hingga mencapai diameter 5-6 cm.

Pecahnya kista folikuler bisa menimbulkan rasa sakit tajam yang cukup parah pada bagian ovarium yang ditumbuhi kista.

Nyeri tajam ini, yang disebut juga mittelschmerz, muncul di tengah-tengah siklus mentruasi, pada saat ovulasi. Seperempat dari jumlah perempuan yang memiliki kista folikuler pernah merasakan nyeri.

Biasanya tidak ada gejala bersamaan dengan munculnya kista folikuler. Kista ini dan akan menghilang dengan sendirinya dalam beberapa bulan.

2. Kista Corpus Luteum

Jenis kista ovarium fungsional ini terjadi setelah sel telur dilepaskan dari folikel. Setelah pelepasan telur, folikel akan berubah menjadi corpus luteum.

Jika kehamilan tidak terjadi, maka corpus luteum akan rusak dan hilang. Tapi bisa jadi corpus luteum tersebut diisi oleh cairan atau darah dan tetap tinggal di ovarium.

Pada kista corpus luteum biasanya tidak ada gejala yang muncul dan hanya terjadi pada salah satu sisi ovarium saja.

3. Kista Hemoragik (Hemorrhagic Cyst)

Kista hemoragik merupakan jenis kista ovarium fungsional yang terjadi jika ada perdarahan yang muncul pada kista. Gejala yang mungkin muncul adalah adanya sakit pada perut di salah satu sisi tubuh.

4. Kista Dermoid

Kista dermoid merupakan jenis tumor jinak yang kadang-kadang disebut sebagai teratoma kistik matang (mature cystic teratoma).

Kista dermoid merupakan kista abnormal yang biasanya memengaruhi perempuan muda dan bisa tumbuh hingga mencapai diameter 15 cm.

Kista dermatoid bisa berisi jaringan tubuh lain seperti lemak, kadang-kadang tulang, rambut, dan tulang rawan.

Hasil pemeriksaan USG dari jenis kista ini bisa bervariasi karena tergantung dari spektrum isinya.
Tapi, pemeriksaan CT scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging) bisa menunjukkan adanya lemak dan kalsifikasi yang padat (dense calcifications).

Kista dermoid bisa menimbulkan peradangan. Kista dermoid juga bisa berputar (berubah posisi), kondisi ini disebut torsi ovarium (ovarian torsion), sehingga bisa membahayakan suplai darah pada ovarium dan menyebabkan nyeri perut yang hebat.

5. Endometrioma atau Kista endometrioid

Endometrioma atau Kista Endometrioid merupakan bagian dari kondisi yang dikenal dengan nama endometriosis.

Kista endometrioid terbentuk ketika jaringan endometrium muncul di ovarium.
Kista endometrioid memengaruhi perempuan selama masa reproduksi dan bisa menyebabkan nyeri kronis pada panggul yang berhubungan dengan menstruasi.

Endometriasis adalah kondisi dimana terdapat kelenjar dan jaringan endometrium di luar uterus.
Perempuan yang mengalami endometriosis mungkin akan memiliki masalah dengan kesuburan.
Kista endometrioid seringkali berisi darah gelap atau merah kecoklatan. Ukuran diameternya bervariasi yaitu antara 2-20 cm.

6. Polycystic-appearing Ovary

Polycystic-appearing ovary didiagnosis berdasarkan besarnya ukuran. Kista ini bisa berukuran dua kali lipat dari ukuran normal, ditandai dengan hadirnya kista kecil di sekitar bagian luar ovarium.
Kondisi ini bisa ditemukan pada perempuan sehat dan pada perempuan yang memiliki gangguan hormon endokrin. Pemeriksaan USG digunakan untuk mendeteksi jenis kista ini.

Polycystic-appearing ovary berbeda dari polycystic ovarian syndrome (PCOS). PCOS merupakan gejala dan kelainan fisiologis yang timbul akibat adanya kista ovarium.

Polycystic ovarian syndrome melibatkan risiko metabolik dan kardiovaskular terkait dengan resistensi insulin. Termasuk diantaranya peningkatan toleransi glukosa, diabetes tipe-2, dan tekanan darah tinggi.

Polycystic ovarian syndrome berkaitan dengan ketidaksuburan, perdarahan abnormal, peningkatan insiden keguguran, dan komplikasi dalam kehamilan.

Polycystic ovarian syndrome sangat umum terjadi dan diperkirakan dialami oleh 4-7 % dari jumlah perempuan dalam usia aktif reproduksi.

Polycystic ovarian syndrome juga berhubungan dengan peningkatan risiko kanker endometrium. Pemeriksaan selain USG diperlukan juga untuk mendiagnosis adanya polycystic ovarian syndrome.

7. Cystadenoma

Cystadenoma merupakan salah satu jenis tumor jinak yang berkembang dari jaringan ovarium. Cystadenoma ini bisa berisi sejenis cairan lendir atau mukus.

Cystadenoma bisa tumbuh menjadi sangat besar, ukurannya diameternya bisa mencapai 60 cm.

Sumber : Amazine.co

0 comments:

Post a Comment